Bonus: Backup, Restore, and Recovery

AUT: BanditHijo | PUB: 2018/02/09 | UPD: 2018/10/29

Bonus: Backup, Restore & Recovery

Backup

Mungkin sebagian dari teman-teman sudah sangat familiar dan mempunyai cara sendiri dalam melakukan backup terhadap data-data yang dimiliki.

Pada part ini saya akan berbagi informasi bagaimana cara saya melakukan backup. Saya sangat menyadari bahwa mungkin cara yang saya dalam melakukan backup, bukan merupakan cara yang baik dan benar. Dengan keterbatasan ilmu saya saat menulis dokumentasi ini, maka cara ini yang masih saya pergunakan.

Pertama, kita membutuhkan partisi backup dengan kapasitas sebesar partisi root.

Bagaimana caranya ?

  1. Siapkan satu buah hard disk minimal berkapasitas yg sama dengan partisi root, atau dapat juga berkapasitas lebih besar.
  2. Apabila ingin menggunakan hard disk external yang sudah ada, maka siapkan satu buah partisi backup sebesar partisi root atau lebih besar.

Kedua, format partisi sekaligus memberikan memproteksi dengan LUKS enkripsi agar data-data backup kita tidak dapat dibuka oleh orang lain dengan mudah.

Bagaimana caranya ?

Buka aplikasi GNOME Disks (gnome-disk-utility – Disk management utility for GNOME).

Gambar 2 - GNOME Disks

Seperti yang kalian lihat pada Gambar 2, saya mempunyai hard disk berkapasitas 1 TB, dengan tiga buah partisi.

1. 540 GB | /dev/sdb1 | Partition 1         | LUKS Encryption
2. 250 GB | /dev/sdb2 | Partition 2         | LUKS Encryption
3. 215 GB | /dev/sdb3 | BANDITHIJO-NTFS    | NTFS

Terdapat dua partisi dengan LUKS Encryption, yaitu Partition 1 dan Partition 2. Ini adalah contoh dari bentuk partisi yang telah dipasang LUKS. Bisa dilihat pada Contents : (paling bawah), terdapat status Locked. Maksudnya, apabila partisi ini di_mounting_, kita diminta untuk memasukkan password.

Cara mengesetnya sangat mudah. Saya berasumsi bahwa kalian sudah mempartisi hard disk yang akan kalian gunakan sebagai media backup. Saya telah menyiapkan Partition 1, yang akan saya gunakan. Kemudian ikutin langkah-langkah di bawah.

Gambar 3.1 - Format Partition

Pilih Partition 1klik Gear icon → pilih Formation Partition.

Gambar 3.2 - Format Volume Window (1)

Pilih Type : Encrypted, compatible with Linux systems (LUKS + Ext4).

Gambar 3.3 - Format Volume Window (1)

Maka akan menampilkan form seperti di atas. Isi Name dan Passphrase. Lalu, pilih Format.

Gambar 3.4 - Format Volume Window (3)

Muncul Pop Up Window yang menanyakan apakah kamu yakin ? Kalau yakin, pilih Format.

Gambar 3.5 - Partition 1 dalam kondisi Unlocked

Gambar 3.6 - Partition 1 dalam kondisi Locked

Sampai tahap ini, maka partisi kita telah siap untuk menjadi target media tempat kita menyimpan backup partisi root.

Sekarang kita akan melakukan backup. Terlebih dahulu, buka status Locked pada partisi yang sudah kita persiapkan. Dengan cara klik icon gembok yang terbuka. Apabila berhasil, Partition 1 akan terbagi menjadi 2 bagian, atas (Partition 1 LUKS) dan bawah (BACKUP-ROOT Ext4).

Kita akan menggunakan rsync untuk melakukan backup. Dengan beberapa parameter dan properties. Lihat contoh command di bawah.

$ sudo rsync -aAXvP --delete --exclude=dev --exclude=proc --exclude=sys --exclude=tmp --exclude=run --exclude=mnt --exclude=home/.ecryptfs / /run/media/archer/BACKUP-ROOT/

Perintah di atas dapat diartikan, kita akan menjalankan perintah rsync dengan tidak mengikutsertakan direktori-direktori berikut ini : dev, proc, sys, tmp, run, mnt, home/.ecryptfs dari / ke /run/media/archer/BACKUP-ROOT/.

Untuk details dari option -aAXvP dan --delete, dapat dibaca pada man rsync.

Proses ini akan memindahkan semua isi yang ada pada direktori / menuju direktori yang ada pada hard disk external kita yaitu /run/media/archer/BACKUP-ROOT/, tidak termasuk directory yang sudah kita tuliskan di atas.

Proses ini memakan waktu lama, bergantung pada seberapa banyak file yang ada pada direktori root / kalian. Sebaiknya pilih hard disk yang sudah menggakan teknologi USB 3.0 agar proses transfer data lebih cepat.

Mengapa tidak mem-backup /home directory ?

Karena /home directory sudah terdapat di dalam directory /.

Mengapa mem-backup semua direktori pada /, tidak /home saja ?

Karena beberapa preferensi pribadi saya terdapat pada direktori /etc dan /usr.

Kalian dapat menentukan direktoi-direktori apa saja yang tidak ingin ikut dibackup, tambahkan dengan cara --exclude=namaDirektori. Atau bahkan kalian ingin merubah source dan destination. Sangat bisa. Saya tidak mengharuskan untuk mengikuti preferensi saya.

Sampai pada tahap ini, langkah-langkah membuat backup telah selesai.

Kalian dapat membuat alias dari command di atas, agar tidak perlu menulis kembali command backup yang sangat panjang dan beresiko untuk typo.

Caranya tambahkan sebaris command alias pada .bashrc atau .zshrc (tergantung kalian pakai shell yang mana).

$ nano .bashrc
...
...

# BACKUP ENTIRE SYSTEM
alias backup-root=”sudo rsync -aAXvP --delete --exclude=dev --exclude=proc --exclude=sys --exclude=tmp --exclude=run --exclude=mnt --exclude=home/.ecryptfs / /run/media/archer/BACKUP-ROOT/”

backup-root dapat kalian ganti sesuai keinginan. Maka, saat ingin melakukan backup, kalian tinggal menghubungkan hard disk dengan komputer/laptop → masukkan password enkripsi → buka Terminal → ketikan backup-root.

Restore

Setelah kita melakukan backup, langkah selanjutnya adalah mengerti bagaimana proses restore. Secara sederhana, dan memang sederhana, proses restore yang saya lakukan adalah meng-_copy_ direktori-direktori yang saya perlukan, satu persatu. Karena apabila saya melakukan instalasi ulang, sebisa mungkin saya menjaga bagaimana sistem tetap dalam keadaan fresh and clean. Hanya data-data tertentu dan saya inginkan saja yang saya restore. Sangat “rambo” dan manual sekali bukan. Hehehe

Mungkin kalian perlu melakukan testing terhadap file hasil backup sebelum system failure yang sebenarnya terjadi.

An untested backup is NOT backup !” – Average Linux User.

Recovery

Apabila terjadi system failure, yang saya lakukan adalah mengambil flash drive bootable berisi Arch Installer, dan melakukan seperti yang ada pada Step 3.1 sampai pacstrap script saja. Kemudian arch-chroot, dan melakukan update. Atau sambil menunggu maintainer memperbaiki package yang error tersebut.

Sebuah keharusan untuk menyiapkan sendiri sebuah flash drive bootable berisi Arch Installer. Agar sewaktu-waktu apabila terjadi kegagalam sistem, kita dapat melakukan tindakan recovery.

4 dari 5 system failure yang pernah saya alami selama 2 tahun menggunakan Arch Linux adalah karena terlalu sering melakukan update. Sedangkan package satu dengan package lain saling berketergantungan. Misal, package A dan B saling ketergantungan, namun package A sudah lebih dulu diupdate, sedangkan package B belum. Hal-hal seperti ini dapat saja dapat menyebabkan system failure saat kita melakukan reboot. Pas lagi apes-apesnya. Biasanya saya tunggu beberapa jam atau satu hari. Lalu saya lakukan Step 3.1 → pacstrap → arch-chroot → update. Dan kebanyakan problem terselesaikan.

Banyak lagi hal-hal lain yang dapat menyebabkan system failure. Contoh dan metode di atas dapat saya katakan sebagai P3K (Pertolongan Pertama Pada Ke-error-an) yang terjadi pada sistem kita.

Lisensi

logo_cc-by-nc-sa