#PrayForNewZealand (Christchurch) - Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga Allah menjadikan saudara kita yang wafat menjadi ahli surga, yang terluka diampuni dosa dan dimuliakan dunia akhirat. Serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran, kekuatan iman, dan limpahan pahala, serta kelak akan kembali dikumpulkan di surgaNya Allah. Aamiin. (2019/03/18) ●

Merubah Default Save Direktori pada GNOME-Screenshot

AUT: BanditHijo | PUB: 2018/04/28 UPD: 2019/03/18
Tips Tools

بسم الله الرحمن الرحيم

banner

Latar Belakang

GNOME-ScreenShot adalah aplikasi untuk mengambil gambar layar monitor yang sudah tersedia secara native pada GNOME desktop environment. Saya sudah menggunakan aplikasi ini sejak masih GNOME versi 2. Saat ini saya sedang menggunakan XFCE4, namun saya kurang menyukai aplikasi screenshot milik XFCE4 karena terlalu sederhana (subjektif penulis).

Permasalahan

Saat mengambil screenshot menggunakan shortcut dengan kombinasi tombol pada keyboard. File gambar otomatis langsung diletakkan pada direktori ~/Pictures. Tentunya hal ini sangat tidak menyenangkan buat saya, karena file tidak terorganisir sesuai tempatnya.

Solusi

Kita membutuhkan aplikasi bantuan untuk merubah konfigurasi, yang bernama dconf-editor.

$ sudo pacman -S dconf-editor

Setelah, dconf-editor berhasil dipasang. Buka dconf-editor.

Lalu pergi ke org > gnome > gnome-screenshot.

Klik dua kali pada bagian auto-save-directory.

gambar1

Nanti akan terbuka section seperti di bawah.

gambar2

Pada bagian paling bawah, Custom value, ganti ke direktori tempat dimana kalian ingin menyimpan hasil screenshot.

Namun sebelumnya, untuk memberikan nilai pada Custom value, harus men-disable Use default value.

Pada contoh di atas, saya meletakkan hasil screenshot pada direktori file:///home/bandithijo/pix/ScreenShot.

And we’re redy to go !

Referensi

  1. askubuntu.com/questions/114429/default-save-directory-for-gnome-screenshot
    Diakses tanggal: 2018/04/28

Penulis

logo_author

BanditHijo adalah nama pena saya – meminjam istilah keren dari para penulis. Teman-teman menyebut saya sebagai GNU/Linux Enthusiast. Saya memang gemar mengutak-atik sistem operasi ini. Bukan karena hobi tapi karena saya perlu untuk menggunakannya. Hehe.

- Rizqi Nur Assyaufi